Tita Dewi Utara

coretan kisah hidup dalam untaian aksara

KESERUAN DI ACARA KOPDAR AKBAR ODOP – JOGJA (BAG 2)

7 Comments

Perjalanan Menuju Kopdar ODOP

Keretaku mulai melaju kencang. Rasanya mata ini semakin lama semakin perih. Mungkin karena semalam kurang tidur, tak berapa lama aku tertidur di kereta. Setelah kereta melewati Madiun, aku terbangun. Lumayan, rasanya badan agak segar setelah tertidur tadi. Sebuah message di WA kuterima, ternyata itu dari Mbak Mabruroh yang bilang sebentar lagi keretanya hampir sampai di Jogja. Dia dan Valya nanti menunggu di musholla stasiun.

Duh, tiba-tiba saja perutku melilit-lilit karena lapar. Aku baru sadar bahwa sedari tadi pagi perutku belum terisi apa-apa. Hanya segelas air putih saja yang sempat kuminum, karena tadi sibuk membungkus kue-kue. Sebetulnya aku bisa saja memakan sebuah kue yang ada di tas ku, tapi… berhubung aku lagi diet karbo, jadinya cuma nelan ludah aja. Duh kasian amat ya? Bawa tas berisi kue-kue lezat bikinan sendiri, tapi gak bisa dimakan satupun, hiks..hiks 😥

Untunglah aku teringat kemarin membawa bekal sebungkus keju kraft mini. Alhamdulillah, akhirnya laparnya sedikit teratasi setelah aku menggigiti keju sampai habis dan minum sebotol air mineral. Sebetulnya di kereta ada makanan yang ditawarkan oleh restorasi, tapi pilihannya nasi goreng. Oh No! Kalau ada sih, aku sebenernya pengen banget makan ayam geprek atau steak aja tapi tanpa nasi hehe… 😀

Setelah melewati Solo, tiba-tiba aja ada chat WA masuk. Ternyata dari Mbak Nova. Oalah ternyata dia gak sendirian, tapi bersama anak dan suaminya. Mbak Mabruroh juga membawa si kecil Valya. Hmm…sepertinya  cuma aku emak-emak yang melenggang sendirian aja 😀

Aku sudah janjian sama Mbak Mabruroh, nanti dari stasiun Jogja, kami akan naik Grab menuju penginapan. Eh ternyata mbak Nova bilang, bahwa dia nanti mau bareng juga naik Grab.” Oke, deh!” sahutku. Tiba-tiba aku baru sadar bahwa nanti kami bertujuh, sedangkan Grab rata-rata kendaraannya kecil-kecil semacam Calya, Agnia dll. Yah coba aja deh nanti anak-anak dipangku kayak di angkot hehe… 😀

Seingatku, Mbak Mabruroh pernah bilang kalau kereta Ranggajati yang dia tumpangi akan sampai stasiun pukul 14.30 siang. Kereta Malioboro Ekspress yang kunaiki akan sampai pukul 15.30, sedangkan kereta Mbak Nova sampai sekitar pukul 16.00. Mbak Mabruroh bilang, yang sampai di stasiun Tugu sekitar jam segitu, bareng aja semuanya. Karena Mbak Mab yang duluan sampai berarti dia harus nunggu sekitar 1,5 jam sampai kami semua datang. Waduh, semoga saja Valya gak rewel nunggu kami datang semua.

***

Aku memantau grup Kopdar sambil sesekali tersenyum melihat foto-foto yang dikirimkan di grup. Ya, peserta yang sudah datang ke penginapan sedari pagi, saat ini sedang bermain di pantai. Duh, senangnya. Sayang, aku tidak bisa ikut karena sudah terlalu sore datangnya.  Geli rasanya melihat wajah-wajah ceria di foto itu. Kenapa coba? Karena mereka semua masih muda-mudaaaa! Hampir sebagian besar seumuran Reza. Bisa dipastikan aku emak-emak paling tua disana hahaa… Gak apa-apa lah, aku kan emang emak-emak gaul 😛

Sebuah chat WA masuk. Ternyata dari Mbak Nova. “Mbak, sekarang sudah sampai mana? Sampe Jogja jam berapa?”

“Baru aja lewat Solo. Nanti sampai Jogja jam 14.30.” balasku

“Mbak, jangan-jangan kita satu kereta. Mbak Tita gerbong berapa?”

“Saya Ekonomi 4. Waduh, coba fotokan tiketnya!”  

Sebuah gambar masuk ke WA. Sebuah tiket Malioboro Ekspress Ekonomi 1!  Ternyata aku sama Mbak Nova satu kereta tapi beda gerbong! Aku langsung tersenyum geli. Sayang, Kami gak bisa ketemu karena anaknya Mbak Nova sedang rewel. Akhirnya disepakati, kami bertemu di musholla saja.

Tak lama terdengar pemberitahuan, kereta akan segera tiba di stasiun Tugu Jogja. Aku bersiap-siap. Agak celingukan sih pas turun. Rasanya aneh saat aku sampai di Jogja! Di stasiun Tugu. Tempat yang sama yang pernah aku datangi 4 tahun yang lalu. Tiba-tiba saja ada perih yang menggurat. Rasanya air mata mengambang di pelupuk mataku. Aku menahannya. Buru-buru kuusap sebelum ada orang lain yang melihatnya. Aku harus segera ke musholla!.

Ketika aku berjalan ke musholla, tiba-tiba saja aku ingin membalikkan badanku ke belakang. Benar saja, aku melihat seorang wanita didampingi seorang laki-laki dan seorang anak kecil. Dari foto profil yang pernah kulihat di facebook, sepertinya itu Mbak Nova!.

“Mbak Nova!” teriakku kencang. Perempuan itu menoleh. Meskipun berhadapan, sepertinya dia belum ngeh aku siapa.

“Saya Mbak Tita!” sahutku geli.

“Ealah, Mbak Tita!” ujarnya sumringah. Setelah berpelukan, kami menuju musholla. Di luar musholla, aku melihat sesosok pemuda yang sepertinya persis seperti di salah satu profil facebook. Apakah itu Mas Rouf? Ya, itu benar Rouf!

“Mas Rouf!” seruku. Pemuda itu menoleh dengan mimik muka keheranan. Dia tidak mengenaliku. Aku paham karena cukup lama aku vakum berinteraksi di grup ODOP. Tak lama dia tersenyum. Alhamdulillah, ternyata dia mengenali sosok di sampingku, Mbak Nova. Di Musholla juga aku bertemu dengan Mbak Mab. Akhirnya kami semua sholat dulu di stasiun.

Usai Sholat sebetulnya aku ingin makan, karena kulihat di dalam stasiun banyak café dan resto fast food.  Perutku ini udah laper banget, tapi gak enak karena kelihatannya semua temanku sudah pada capek dan ingin segera menuju penginapan. Kalau sendirian sih, tentu saat itu aku sudah nangkring di salah satu café yang ada disana. Aku kan cuek, sudah terbiasa makan atau minum sendirian dimanapun tanpa harus ada teman. J Akhirnya, kuputuskan nanti saja sesampainya di penginapan  nyari makannya.

 Ternyata Rouf dari Semarang barang temannya, Mbak Nik, dan kita semua sama-sama tujuannya ke penginapan. Akhirnya kami pesan 2 mobil grab. Aku bareng Mbak Mabruroh, Valya dan Rouf. Sedangkan satu mobil lagi berisi Mbak Nova beserta suami dan putranya, ditambah Mbak Nik. Kami semua menuju penginapan yang telah disediakan : Griya Langen Homestay Jalan Langenastran Kidul No. 28. Panembahan, Kraton Jogjakarta.

 

***

Ternyata jarak dari stasiun Tugu ke penginapan cukup dekat. Tarif Grabnya juga murah hanya Rp. 15.000 saja. Kuberi selembar uang 20 ribuan saja karena kami kan berempat. Segitu aja masih murah ketimbang harus naik becak 😉 . Sampai Griya Langen, aku tertegun. Terlihat beberapa buah rumah dengan taman asri di depannya. Dari luar aja terlihat tempatnya bersih banget. Udah gitu suasananya homy bangeeet, sukaaaa deeh.

 

Disana ternyata kami disambut ramah oleh Mbak Juni, Mbak Sakifa dan Mbak Hiday.  Aku dan Mbak Mabruroh memutuskan menempati kamar depan dan menaruh semua tas kami disana. Berhubung laper banget, aku bertanya-tanya dimana tempat makan di sekitar situ. Eh, ternyata Mbak Juni menawarkan mengantarku nyari tempat makan di sekitar situ dengan motornya. Aiiih baik banget deh, aku sampai terharu, padahal kami baru saja ketemu.

Gak pake nunggu lama, aku dibonceng Mbak Juni mengelilingi jalanan sekitar situ. Begitu motor sudah menapaki jalanan, hatiku kembali tercabik-cabik. Terakhir aku menyusuri jalanan di kota Jogja, persis seperti sore itu. Tetapi saat itu aku dibonceng Reza 😥

Kami berdua saat itu jalan-jalan di sore hari, hendak mencicipi kuliner Jogja yang belum pernah kudatangi. Kucengkram pinggang Reza kuat-kuat karena saat itu dia membawa motor cukup kencang. “Za, jangan ngebut dong. Mamah takut nih!” pintaku semakin mengeratkan peganganku pada pinggangnya. “Hehe…ini aku udah pelan lho Mah! Biasanya kalau ke kampus, aku malah ngebut.” Reza memperlambat laju sepeda motornya sambil tersenyum menggodaku.

Ya Alloh, kenapa semua kenangan indah itu selalu melintas di hadapanku? Disaat aku tak kan pernah lagi melihat senyumnya, melihatnya, apalagi memeluk dan membelainya? 😥  Beri aku kekuatan ya Alloh, saat ini aku tidak mau terlihat bersedih di hadapan sahabat-sahabatku. Tapi apa daya, di belakang motor, air mataku kembali menetes tak tertahankan. Untung saat itu Mbak Juni tak melihatku sedang meneteskan air mata, karena aku segera menghapusnya dengan sehelai tissue.

“Itu ada rumah makan padang Mbak!” seru Mbak Juni mengaburkan lamunanku. Akhirnya aku berhenti dan membeli sebungkus nasi padang dengan lauk rendang dan telur dadar. Sedangkan untuk Mbak Mab, aku membungkuskan nasi dengan lauk bebek, ayam goreng dan sambal teri.

Sesampai di penginapan, aku segera makan karena perutku udah perih banget. Nikmaat sekali rasanya karena udah lama rasanya gak makan nasi padang. Sorenya ternyata rombongan yang habis jalan-jalan ke pantai baru saja datang. Diantara semua semua gadis-gadis yang datang, tak satupun yang aku kenal.  Dengan sotoy aku langsung menyapa salah satu gadis berkerudung dan berkacamata,”Ini Mbak Ciani ya?” tanyaku sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Gadis yang disalami tersipu. “Bukan, saya Irene!” Hahaaa…Tuh kaan dasar aku sok tau, ngeliat aja belum pernah! Cuma pernah dikasih tahu aja ciri-cirinya mbak Ciani, eeeh ternyata mirip sama Mbak Irene 😛

Meskipun satu sama lain belum saling kenal, tak butuh lama bagiku untuk larut dalam pembicaraan asyik dengan mereka. Semuanya ramah dan baik-baik. Mbak Hiday yang kalem tapi bicaranya bijak, Mbak Cili yang imut dan suaranya manja, Mbak Sakifa yang ringan tangan dan cekatan, Mbak Risa yang senang cerita, Mbak Irene yang sering disangka kembarannya Mbak Cili, Mbak Juni yang welcome serta perhatian banget dan tentu saja Mbak Mabruroh! Sahabat dumayku yang satu ini sudah kenal lama tapi baru bertemu sekarang.

Kesan pertama yang saya tangkep, Mbak Mab itu kalem dan feminin banget. Beda dengan aku yang mukanya aja feminin tapi ngomongnya nyerocos gak berhenti-berhenti hehe…Duh padahal aku baru pertama kali bertemu dengan mereka semua tapi rasanya klik dan nyambung, kayak sahabat yang sudah tahunan tidak ketemu.  Sore semakin hangat ditemani sebungkus ronde dan susu jahe yang dibelikan Mbak Hiday dan pizza mini buatanku.

 

Lucunya Mbak Cili kepedesan makan pizzaku, sedangkan Mbak Risa bilang manis, gak pedes sama sekali. Yah begitulah kalau yang satu lidah jawa dan yang satu lidah padang. 😛

***

Malam sehabis Isya, semua peserta berkumpul di teras. Seru sekali acara perkenalannya. Untukku, ini adalah pertama kalinya bertemu mereka semua. Mas Heru yang selama ini hanya tahu dari profil FB nya saja ternyata aslinya tak jauh dari fotonya. Sosok yang ahli di bagian pewayangan ini, cocok sekali sebagai ketua karena pembawaannya yang berwibawa. Setelah memperkenalkan diri masing-masing dan apa yang menjadi ciri khasnya, aku jadi semakin tahu bagaimana sebetulnya sosok teman-temanku selama ini. Mereka semua adalah generasi muda yang hebat, orang-orang yang mempunyai talenta yang luar biasa di bidang literasi. Sedangkan aku? Aku baru menekuni dunia ini sekitar tiga tahun saja, setelah Reza tiada dan hanya sebagai pelarian untuk mengalihkan semua kepedihanku. Sebelum akhirnya dunia literasi ini merengkuhku dengan cinta.

   

Suasana makin akrab karena perkenalan kami diwarnai dengan senda gurau dan acara saling menjodoh-jodohkan pasangan yang masih jomblo hehe… Sayang sekali. Malam itu diputuskan acara kopdar besok yang seharusnya diadakan di candi Ijo dibatalkan karena beberapa kendala termasuk transportasi. Sebetulnya aku sudah berharap sekali pengen kesana, tapi mungkin itu keputusan yang terbaik. Akhirnya disepakati, besok acaranya diadakan di tempat yang sama, teras penginapan.

 Sebetulnya sehabis itu acaranya bebas, tapi karena kami semua belum saling mengenal satu sama lain, akhirnya tanpa disadari diskusi berlangsung perkelompok. Aku dulu tergabung di ODOP 3 dan saat itu kebetulan ada Rouf, Fadly, Mbak Mab dan Mbak Nova. Tapi karena kelihatannya Mbak Nova asyik mengobrol dengan Mas Ian, Mbak Saki dan Pak Walimin, ya udah jadinya kita berempat aja ngobrolnya. Aku, Rouf, Fadli dan Mbak Mab.

Aku juga gak inget gimana awalnya, tahu-tahu aku bisa ngobrol panjang lebar tentang strategi dan caraku agar menang lomba puisi. Mendengar ceritaku, Fadli keliatannya girang banget. Pemuda yang biasa dijuluki Mr. Baper itu manggut-manggut semangat sambil cengengesan. Sontak aku, Mbak Mab dan Rouf juga jadi ketawa-ketawa. Duh, ngeliat Rouf dan Fadly, aku jadi teringat Reza lagi. Akhirnya aku tanpa sadar cerita tentang Reza. Rasa rinduku sudah sejak tadi siang membuncah saat menginjak kembali kota ini.

Rasa haru menyeruak saat melihat dua pemuda yang kini sedang terpaku mendengar ceritaku. Tawaku tiba-tiba terhenti oleh tangisanku. Air mata ini sebetulnya sudah kutahan agar tak jatuh. Aku bercerita bagaimana beruntungnya aku mempunyai anak seperti dia. Aku sudah puas mengantarnya mengikuti berbagai lomba selama hidupnya. Fadli, Rouf dan Mbak Mab seolah terhanyut mendengar ceritaku tentang Reza. Bila Reza masih ada, sejak tahun kemarin Insya Alloh dia sudah menamatkan kuliah kedokterannya di UGM. Ya, menjadi dokter adalah cita-citanya sejak dulu. 😥 .

Tiba-tiba Mbak Mab melipat sebuah buku cerita bergambar kepunyaan Valya yang covernya sangat kukenal. Ya, itu adalah buku Cakrawala Pengetahuan Dasar untuk anak Pra Sekolah. Aku sangat hapal karena saat di Bandung, aku pernah menjadi Book Advisor buku-buku ensiklopedi dari Tiga Raksa. Saat itu aku masih kerja di Bank Danamon Cab. Ahmad Yani. Kecintaanku terhadap buku, membuat aku ingin menjalankan profesi ini. Akhirnya mengalirlah ceritaku tentang kegiatanku menjadi book advisor.

Heran deh, bukannya bosan mendengar ceritaku, ketiga orang yang mendengarkanku bercerita malah semakin asyik menyimak. Kalau saja kami tidak diingatkan saat itu sudah jam 00.45 malam, tentu kami tidak akan bubar. Haa? Aku sendiri heran, tadi mulai cerita sejak jam berapa ya? Kok tahu-tahu udah hampir jam 1 malam?. Ya ampun, ternyata di sekeliling kami, semua orang sudah pergi ke kamarnya masing-masing. Waduh, terpaksa bubar deh karena besok pagi kami harus segera bangun lagi untuk acara kopdar.

Saat Aku dan Mbak Mabruroh menuju kamar-kamar khusus perempuan, ternyata disana sudah sepi sekali. Kami berdua tertawa geli karena duo emak ini malah pulang kandang paling terakhir hehe… Ternyata di ruangan masih ada Mbak Juni dan Mbak Sakifah yang masih terjaga. Mbak Juni berniat pulang nanti shubuh sedangkan Mbak Sakifah mau menjemput Aa Gyl dari terminal Lempuyangan nanti jam 02.00. Mbak Saki tidak mau tidur dulu karena takut kebablasan tertidur. Duh, mereka ini betul-betul tuan rumah yang baik.

Tak sabar rasanya aku menanti pagi tiba, memulai acara kopdar bersama teman-teman lain yang baru datang besok pagi. Rasa kantuk mulai menyerangku. Rasanya nikmat sekali mata ini terpejam setelah kemarin hanya tertidur beberapa jam saja. Tak lama akupun terlelap…

***

Author: terminalceritaku

Aku adalah seorang ibu dari tiga orang putra yang mulai menekuni dunia literasi setelah kehilangan Reza, putra sulung yang sangat kucintai. Berbagai coretan puisi dan cerpen disini merupakan curahan hati kerinduaku. Hobiku adalah membuat aneka kue dan memasak, semata-mata merupakan perwujudan cintaku pada keluarga. Selain itu, hobiku menyanyi adalah merupakan cita-cita yang sejak dulu terpendam dan tak pernah terwujud. Sekarang, aku sudah cukup bahagia menjadi seorang penulis, koki sekaligus penyanyi di rumah :)

7 thoughts on “KESERUAN DI ACARA KOPDAR AKBAR ODOP – JOGJA (BAG 2)

  1. Uwaaa…..aku terharu bundaaa..

    Like

  2. Kang Reza nampaknya seumuran aku. Jadi sedih aku

    Liked by 1 person

  3. Peluk bunda tita lagiiii…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s