Tita Dewi Utara

coretan kisah hidup dalam untaian aksara

Foto Pengantar Rindu

1 Comment

Foto: penulispro.net

Randi berdiri terpaku menatap sehelai foto yang disematkan di cermin. Lembaran kertas itu tampak mulai menguning. Terlihat seorang anak laki-laki berwajah bulat sedang tertawa lebar sambil mengacungkan sebuah medali perunggu yang terkalung di lehernya. Tawa yang menampilkan sederet gigi putihnya itu terlihat begitu bahagia.

Kertasnya yang mulai menguning menunjukkan bahwa itu memang foto lama. Saat itu anak tersebut masih duduk di kelas enam SD. Rendi perlahan mendekati foto itu hingga kini wajahnya sejajar dengan foto itu. Dia memejamkan matanya. Membiarkan rasa sakit menusuk-nusuk hatinya. Rasa yang tak akan pernah bisa terobati sampai kapanpun. Penyesalannya tiada akhir. Randi teringat kembali kejadian masa kecilnya bersama Renza…

***

“Kak Renz, aku  pinjam laptopnya ya!” Tiba-tiba saja Rendi nyelonong sambil menarik laptop yang sedang dipakai oleh Renza.

Renza membelalakkan matanya kaget.  Randi tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya dan berusaha merebut laptop yang sedang dipakainya.

“Ran, sekarang Kakak masih mengerjakan tugas. Pinjamnya nanti saja kalau tugasnya sudah selesai, ya?” jawab Renza sambil matanya tetap tertuju pada layar laptop.

“Kenapa sih kalau Kak Renza selalu dibolehin pakai laptop Papa? Sedangkan aku selalu dilarang kalau mau pinjam!” Randi mengerucutkan bibirnya sambil mendengus kesal.

Renza berhenti mengetik,  menarik napas panjang kemudian tersenyum. Dia berusaha bersabar menghadapi Randi yang sering menguji kesabarannya.

“Kak Renza kan sedang mengerjakan latihan soal untuk lomba, Ran.” Jelas Renza.  “Kamu sering pakai laptop Papa untuk main game dan lupa mengerjakan PR. Jadinya Papa marah.”

“Kakak nggak adil! Pokoknya sekarang giliranku!” Randi tidak terima dan langsung saja mengambil laptop dari meja.

“Jangan dulu Ran! Filenya belum Kakak save tadi!” Renza berusaha mempertahankan laptopnya. Randi dan Renza saling menarik laptop tersebut. Randi mengerahkan sekuat tenaganya untuk menarik laptop hingga pegangan Renza terlepas. Randi akhirnya hilang keseimbangan. Tubuhnya terpelanting ke belakang dan laptop yang sedang dipegangnya terlepas dari tangannya.

“Braaakkk …!”

Laptop itu jatuh ke lantai! Suaranya sungguh keras hingga membuat Papa Randi yang sedang menonton acara TV langsung berlari menuju kamar.

“Suara apa itu tadi?” tanya Papa Randi dengan nada tinggi. Kening laki-laki berkaca mata itu mengerut  melihat sebuah laptop di lantai. Tak lama wajahnya menegang dan matanya terbelalak. Wajah Renza memucat begitu tahu Papanya masuk ke kamar dan melihat laptop kerjanya terjatuh di lantai.

“Ya ampun! Randi! Renza! Kamu apakan laptop Papa?!” teriak Papa histeris begitu melihat permukaan layar laptop tersebut retak di beberapa bagian. Laptop tersebut mati total!

“Randi!” Mata laki-laki itu langsung berpaling dan menatap tajam pada anak laki-laki yang sedang terduduk meringis di lantai. Dia curiga karena memang Randi sering berulah macam-macam.

“Mmmh … Kak Renza yang nggak hati-hati, Pa! Tadi Randi mau pinjam laptop, tapi gak dibolehin.” Kilah Randi pada Papanya.

“Renza belum selesai mengerjakan tugas, Pa! Randi langsung ambil gitu aja.”

“Tapi Kak Renza langsung lepasin pegangan Randy, Pa. Jadinya laptopnya langsung jatuh!” elak Randi. Renza hendak membuka mulut dan menyangkalnya tetapi akhirnya dia menunduk sambil terdiam.

Laki-laki itu langsung berbalik menatap tajam wajah Renza. “Renza! Itu laptop yang biasa dipakai Papa untuk tugas kantor! Gimana Papa mau kerjain tugas kantor  kalau begini?” hardik laki-laki itu dengan suara gusar. Rahangnya mengeras menahan marah. “Karena ini kesalahanmu, selama satu bulan kamu tidak mendapatkan uang jajan!”

“Maafin Renza, Pa ….” Lirih Renza sambil menggigit bibirnya. Dia sangat mengerti kesulitan Papanya. Untuk memperoleh laptop itu dulu, Papanya harus menabung lama. Saat ini juga Papanya sedang kesulitan keuangan.

Melihat Renza merasa bersalah. Randi malah bersorak dalam hati. “Rasain! Sekarang giliran Kak Renza yang dimarahi. Biarin saja! Biasanya papa selalu memarahiku!”

Untuk pertama kalinya Randi merasa sangat senang telah berhasil memerdaya Renza. Apalagi setelah dia mendengar ayahnya akan menghukum Renza. Kakaknya itu tidak akan mendapat uang jajan selama satu bulan.

Malam itu Randi melihat kakaknya gelisah. Berulang kali Renza terlihat membolak-balikkan badan tanpa bisa memejamkan matanya. Mereka berdua memang tidur di satu tempat tidur susun. Renza tidur di tempat tidur atas dan Randi di bawah. Randi terkekeh, kemudian dia menarik selimutnya dan tertidur dengan lelap.

Selama sebulan, setiap hari Randi memamerkan uang yang diperoleh dari Ayahnya. Terkadang dia membeli jajanan yang disukai Renza hanya untuk memanas-manasi kakaknya itu. Randi tahu, Renza sangat ingin memakannya

Kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya. Kini Randi sudah SMA sedangkan Renza kuliah di Teknik Industri UI. Semua mungkin sudah melupakan kejadian itu termasuk Randi. Tapi sekarang dia merasa hidupnya hampa tanpa adanya Renza.

Satu minggu yang lalu, Renza pergi untuk selama-lamanya. Sebuah kecelakaan motor menyebabkan cedera berat pada kepalanya. Setelah hampir dua minggu terbaring di ruang ICU,  berjuang antara hidup dan mati, Renza pergi meninggalkan semua orang yang disayanginya. Mama Randi shock berat setelah ditinggal Renza. Perempuan itu lebih banyak mengurung diri di kamar bersama semua barang peninggalan Renza.

Tanpa disadari semua orang, Randi sebetulnya adalah orang yang paling terpukul atas kematian Renza.  Setiap hari kerjaan Randy adalah duduk melamun sambil memandangi foto Renza. Dia juga tidak mau makan sehingga membuat bingung Mama dan Papanya.

***

Hari ini adalah hari pertama Randi pergi ke sekolah setelah kematian Renza. Selama di sekolah, waktunya hanya diisi dengan melamun. Sampai sekarang dia masih tidak percaya kalau Kakaknya pergi meninggalkan dia begitu saja.  Andai waktu bisa diputar balik, dia ingin memperbaiki semua perbuatan jahatnya pada Renza.

Sepulang sekolah, diam-diam Randi mengunci pintu kamarnya. Dikenakannya jaket kesayangan Renza. Randi mengambil sebuah album foto yang luarnya sudah lusuh. Dibukanya satu persatu halaman album itu. Randi mengeluarkan sebuah foto saat dia sedang berulang tahun yang ke 5 tahun. Renza mencium pipi Randi sambil menyerahkan sebuah kado padanya. Saat itu Renza memberinya sebuah topeng power ranger. Kado itu dibeli Renza dari menyisihkan uang jajannya setiap hari.

Randi melompat gembira mendapat kado itu. Randi sangat senang karena Renza sangat tahu apa yang diinginkannya. Hampir di setiap foto, Renza selalu terlihat menggandeng lengan Randi. Seolah dia takut berpisah dengan adik tersayangnya itu.

Mata Randi tak berkedip menatap foto tersebut. Rasa sesak mulai memenuhi rongga dadanya. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Entah kenapa sedari dulu Randi selalu iri pada Renza padahal kakaknya itu sangat menyayanginya. Randi teringat, Renza selalu mengajaknya bermain ke sekolah TK yang ada di sebelah rumah mereka. Mendudukkan Randy di ayunan dan mulai mengayunnya hingga Randi tertawa-tawa.

Kali ini Randi tak dapat menahan tangisnya. “Maafkan aku Kak Renza … Randi sering jahat sama Kakak. Kenapa Kak Renza harus meninggal? Kenapa?” Tangis Randi pun meledak. Malam itu Randi hanya termenung menatap langit-langit. Bayangan demi bayangan kenangannya bersama Renza berkelebat. Randi akhirnya tertidur dengan mengenakan jaket Renza dan memeluk foto mereka berdua.

***

“Ran … Randi, bangun!”

Lamat-lamat Randi mendengar sebuah suara menyuruhnya bangun. Dia membuka kelopak matanya. Terasa berat. Sesosok bayangan perlahan mulai jelas saat dia membuka matanya. Sontak dia terlompat kaget. Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda tampan yang mengenakan baju koko putih dan sedang tersenyum padanya. Randy tertegun. “Apakah ini Kak Renza? Sungguh berbeda karena mukanya terlihat bercahaya dan sangat tampan!”.

“Kak Renza? Kaaakk!” Randi melompat dari tempat tidurnya dan langsung memeluk Renza sambil menangis sesenggukan. Renza tersenyum sambil mengelus-elus kepala Randi dengan sayang.

“Kak Renza kenapa pergi ninggalin Randi? Apa Kakak marah karena aku sering jahat sama Kak Renza?” tanya Randi sambil terisak.

“Sstt … Sudahlah! Jangan menangis! Masak adik laki-laki kesayangan Kakak menangis?” Renza mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Randi.

“Kak Renza, jangan pergi lagi ya? Aku minta maaf selama ini sering menyusahkan Kakak,”

“Sudahlah Randi. Kak Renza tidak pernah marah kok. Ikut Kakak sebentar yuk!” Renza tersenyum sambil menggandeng tangan Randy dengan sayang.

“Kemana Kak?”

Renza tidak menjawab. Di hadapan mereka tiba-tiba terpampang sebuah lingkaran berwarna putih menyilaukan. Renza menggamit tangan Randi. Mereka berdua melangkahkan kakinya masuk ke dalam lingkaran yang mirip sebuah terowongan tersebut. Mata Randi terpejam karena cahaya di dalam lorong tersebut terlalu silau.

Ketika Randi membuka mata lagi, dia terpana. Sekarang dirinya sudah berada di sebuah taman yang sangat indah. Matahari bersinar sangat terang, tetapi anehnya udara di sana sangat sejuk. Bunga-bunga mekar berwarna-warni menghantarkan aroma wangi yang belum pernah Randi rasakan sebelumnya. Gemercik air terdengar dari mata air bening yang dihiasi bebatuan laksana permata yang berkilauan. Begitu teduh, sejuk dan damai berada di tempat itu.

“Duduk yuk!” ajak Renza sambil menepuk tempat di sebelahnya. Menyuruh Randi duduk.

Di sebuah batu besar yang berwarna hijau jamrud, mereka berdua duduk. Tak lama terdengar suara tawa Randy dan Renza. Mereka terlihat asyik mengobrol hingga lupa waktu.

“Randi, sudah waktunya kita pulang …” Perkataan Renza mengejutkan Randi.

“Tidak Kak. Randi mau tinggal bareng Kak Renza saja. Randi tak mau lagi ditinggal sendiri.”

“Randi …” Renza menatap lekat-lekat mata adik kesayangannya. “Asal kamu tahu, Kakak tidak pernah meninggalkan kamu.”

“Bohong! Pasti Kak Renza mau ninggalin Randi selamanya. Aku  nggak mau pulang!”

“Kak Renza janji. Peluklah foto kita berdua sebelum tidur. Kapanpun Randi ingin ketemu, Kakak pasti datang.” Janji Renza.

“Janji?”

“Kakak janji.”

Randi tersenyum. Mereka berdua kembali melewati lorong cahaya tersebut. Sebelum akhirnya Renza melambaikan tangannya dan menghilang bersama lorong tersebut.

***

“Ran …! Randi! Bangun! Ini sudah pagi! Mau sekolah nggak?”

Mata Randi terbuka. Dia mendengar suara Papanya dan ketukan keras berulang-ulang di pintu. Tiba-tiba dia tersadar bahwa dia tertidur sejak sore kemarin dan melewatkan makan malam.

“Ya, Pa. Sebentar!”

“Kamu semalam nggak makan lho! Apa kamu pengen sakit?” Suara Papanya terdengar gusar.

“Gak, Pa! Randi mau mandi dulu terus sarapan!” ujar Randi tersenyum sambil bergegas ke kamar mandi. Matanya terlihat berbinar-binar. Kening Papa Randi berkerut. Merasa heran karena semalam anaknya itu terlihat murung dan sedih. Sedangkan pagi ini terlihat begitu ceria.

***

Malam berikutnya , sebelum tidur, Randi kembali memakai jaket Renza. Dia menggenggam foto itu dan  menaruhnya di dada. Sambil memeluk foto itu Randi berbisik lirih, ”Kak Renza … Randi kangen Kakak,”. Randi terus mengulangnya hingga dia tertidur.

“Ran … Randi, bangun!”

Mata Randi terbuka. Dia terduduk sambil tersenyum memandangi Renza yang telah siap menjemputnya.

“Kita main ke sekolah seperti dulu yuk!” ajak Renza sambil mengulurkan tangannya.

Mereka berdua berjalan melewati lorong cahaya menuju bangunan sekolah TK di samping rumah mereka dulu. Bermain ayunan seperti waktu mereka masih kecil. Bercanda dan tertawa bersama. Kemudian setelah puas, Renza dan Randi berpisah ketika hari menjelang pagi.

Randi sekarang tak pernah merasa bersedih lagi, karena Renza ternyata selalu ada di dekatnya. Abadi. Walau dunia mereka kini berbeda…

***

Aku adalah penggemar berat lagu-lagu Evanescence. Tetapi diantara semuanya, lagu ini yang selalu sukses membuat aku menangis. Irama lagu ini menimbulkan perasaan merinding karena terdengar begitu menyayat hati. Sedangkan liriknya yang begitu sedih sehingga sering membuatku menitikkan air mata. Sebuah lagu kehilangan yang sangat merasuk di dalam jiwaku sehingga merupakan lagu favoritku.

 

Hello – (Evanescence)

Playground school bell rings again

Rain clouds come to play again

Has no one told you she’s not breathing?

Hello, I’m your mind giving you someone to talk to

Hello

If I smile and don’t believe

Soon I know I’ll wake from this dream

Don’t try to fix me, I’m not broken

Hello, I’m the lie living for you so you can hide

Don’t cry

Suddenly I know I’m not sleeping

Hello, I’m still here

All that’s left of yesterday

 

Author: terminalceritaku

Aku adalah seorang ibu dari tiga orang putra yang mulai menekuni dunia literasi setelah kehilangan Reza, putra sulung yang sangat kucintai. Berbagai coretan puisi dan cerpen disini merupakan curahan hati kerinduaku. Hobiku adalah membuat aneka kue dan memasak, semata-mata merupakan perwujudan cintaku pada keluarga. Selain itu, hobiku menyanyi adalah merupakan cita-cita yang sejak dulu terpendam dan tak pernah terwujud. Sekarang, aku sudah cukup bahagia menjadi seorang penulis, koki sekaligus penyanyi di rumah :)

One thought on “Foto Pengantar Rindu

  1. Terharuuu 😭😭😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s