Tita Dewi Utara

coretan kisah hidup dalam untaian aksara


Leave a comment

Kupu-kupu cantik di hati Dion

Cerpen : Teenlit

Genre : Romance

Diam-diam Dion memandangi Nayla dari kejauhan seakan tersihir. Dia tidak sadar sudah berapa lama berdiri mematung disana. Tak kuasa dia mengalihkan pandangan dari sosok gadis pemalu itu. Dion sendiri merasa aneh karena dari sekian banyak siswi di sekolah ini, hanya gadis yang berpenampilan cupu itu yang mampu mencuri hatinya. Padahal di sekolah ini banyak sekali siswi cantik yang terpikat pada Dion.

Siapa yang tidak suka dengan Dion? Selain ketua OSIS yang berotak encer, postur badan Dion yang atletis dan wajah yang tampan tentu saja membuat banyak para siswi tergila-gila padanya. Apalagi Dion juga supel dan ramah. Tapi Dion sama sekali tidak peduli meski teman-temannya mengejek penampilan Nayla yang sama sekali tidak menarik. Dion merasa dirinya ingin selalu dekat dengan Nayla dan melindungi gadis yang sering dibully teman-temannya ini.

“Hai Dioon!”

Sebuah suara cempreng dan tepukan keras di bahu Dion membuat dia terperanjat hingga membuyarkan semua lamunannya. Tiba-tiba saja Cindy sudah berdiri tepat di samping Dion dengan senyum dikulum dan mata yang berkedip genit. Di belakangnya terlihat Siska dan Deby yang selalu setia mengikuti kemanapun Cindy pergi. Dion langsung menampakkan wajah sebal ketika melihat si anak Jenderal yang terkenal sombong di sekolah itu. Cindy yang memang sangat suka dengan Dion semakin mendekat dan merapatkan tubuh pada Dion. Serta merta Dion mengerenyitkan dahinya dan beringsut menjauh dari Cindy,  seolah-olah takut gadis itu akan menularkan penyakit padanya.

“Iih, Dion. Kok kamu gitu sih?” Cindy langsung mengerucutkan bibir mungilnya. Muka cantiknya terlihat merajuk ketika Dion terang-terangan menjauhi dirinya.

“Ada perlu apa Cin?” nada suara Dion terdengar datar. Dia ingin Cindy dan kedua temannya segera beranjak menjauhinya.

“Kamu barusan lagi ngelihatin siapa sih? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Cindy dengan tatapan penuh selidik. Sepertinya gadis itu curiga melihat mata Dion yang berbinar-binar dan tersenyum, pandangnya tertuju ke seberang lapangan basket. Di seberang lapangan itu sejumlah anak perempuan  terlihat sedang berdiri berderet sambil memberi semangat tim basket favoritnya.

Dion langsung terlihat gugup. Keningnya terlihat berkeringat. Tidak menyangka Cindy tadi memperhatikan tingkahnya. Dion berharap Cindy tidak tahu bahwa dia sedang memperhatikan Nayla di seberang sana. Oh tidak! Nayla masih tetap ada disana, sedang berdiri memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sedang bermain basket. Saat ini dia berada tepat di seberang Dion berdiri sekarang.

“Jangan-jangan kamu lagi ngelihatin Si Cupu murid baru itu ya?” tanya Cindy langsung mengagetkan Dion. Celaka! Cindy bisa menebak apa yang ada di pikirannya!

“Apaan sih? Udah ah, aku mau ke kelas.” elak Dion seraya bergegas pergi meninggalkan Cindy.

“Dion… Diooon!” panggil Cindy. Dia merasa kesal karena Dion tidak mengacuhkannya dan tiba-tiba saja meninggalkannya. Cindy merasa yakin dengan tebakannya bahwa Dion sedang memperhatikan Nayla si gadis cupu itu.

Cindy mengepalkan tangannya karena merasa kesal kepada Nayla.

“Awas kamu Nay!” ujar Cindy geram.  

***   

“Hei Cupu, sini kamu!” Cindy membentak sambil berkacak pinggang. Seorang gadis tampak ragu-ragu berjalan mendekati Cindy.  Matanya terlihat seperti sedang mencari sesuatu di bawah. Wajahnya tertunduk, sama sekali tidak berani menatap Cindy karena takut.

Melihat gadis itu ketakutan, Cindy bukannya merasa kasihan. Dia malah merasa di atas angin dan semakin berani memarahi gadis yang dianggapnya sudah merebut perhatian Dion, cowok incarannya.             

“Heh, ngapain kamu deketin Dion? Sok kecakepan aja, ngaca dong kamu!” ujar Cindy sambil mengangkat telunjuknya tepat di depan muka Nayla. 

“Kacamata aja udah setebal toples, mana mau Dion sama kamu?” cecar Cindy. Dia merasa sangat puas karena sudah berhasil memojokkan Nayla, murid baru di sekolah ini. Nayla semakin menundukkan kepalanya, bulir air mata mengambang di sudut-sudut matanya. Perasaannya sungguh hancur. Baru saja dia merasa bahagia karena diantara sekian banyak murid di sekolah ini, hanya Dion serta sahabat barunya, Ina yang terlihat mau bersahabat dengannya. Temannya yang lain sepertinya enggan mendekati, sebagian yang lain malah membully dirinya.

“Maaf Cin, aku tidak berusaha mendekati Dion…” ujar Nayla terbata. “Dion yang mendekati aku ketika di kantin tadi.”

“Yeee sok kecakepan aja! Awas ya kalo kamu berani dekatin Dion lagi, Nih!” ancam Cindy sambil mengepalkan tangannya di depan muka Nayla. Gadis itu terlihat mundur beberapa langkah, mukanya pucat karena takut Cindy betul-betul akan meninjunya.

Baru saja Cindy hendak berlalu dari situ, tak sengaja dia melihat sepatu kets putih yang dikenakan Nayla. Matanya langsung terbelalak, dia tak mempercayai penglihatannya!. Selama ini sepatu yang dikenakannya adalah sepatu termahal diantara teman-temannya. Tapi sekarang apa yang dia lihat? Sepatu Nayla adalah sepatu yang harganya dua kali lipat sepatunya. Dia tahu betul karena pernah meminta untuk dibelikan, tapi papanya menolak karena terlalu mahal.

“Iiih, pasti kamu mau nyaingin aku ya? Nih rasain!” Ujar Cindy bersungut-sungut. Kakinya menginjak sepatu Nayla kuat-kuat. Dia sungguh tidak rela, Nayla berani menyaingi penampilannya.

“Aduh, Cin. Sakit!” Nayla mengaduh, mukanya meringis kesakitan. Cindy menyeringai senang. Dia segera meninggalkan tempat itu dengan rasa puas. Dia tidak habis pikir apa yang dilihat Dion dari gadis itu?

Wajah Nayla memang alakadarnya dengan mata yang tertutup kacamata tebal. Belum lagi giginya yang memakai kawat behel membuatnya terlihat agak tonggos. Rambut dikepang dua seperti gadis jaman dahulu. Hanya kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung yang membuat gadis ini sedikit menarik. Selebihnya? Tentu saja penampilan Cindy jauh lebih cantik dan menarik. Apalagi barang yang dikenakan Cindy semuanya bermerk sehingga menambah kecantikan si anak jendral itu. Sayang, Cindy tumbuh menjadi gadis yang sombong dan selalu meremehkan orang lain.

Muka Nayla meredup melihat sepatu putih kesayangannya sekarang terlihat belepotan tanah. Hatinya sungguh pedih mendengar semua tuduhan Nayla. Dia memang tidak berusaha mendekati Dion, tapi Nayla mengakui bahwa perhatiannya yang tulus diam-diam telah memikat hati Nayla.    

****

“Ya Alloh….” lirih Nayla. Dia berjongkok berusaha membersihkan sepatunya dengan sehelai tissue. Baru saja dia berdiri dan membalikkan badannya hendak kembali ke kelas , tiba-tiba saja Dion saja sudah berdiri di hadapannya.

“Lho kenapa kamu Nay?” tanya Dion terlihat khawatir.

Nayla mundur selangkah, dia kaget begitu melihat Dion tiba-tiba sudah ada di hadapannnya. Dari kejauhan tadi Dion melihat Cindy berkacak pinggang dan jarinya menunjuk-nunjuk Nayla. Makanya dia bergegas menghampiri Nayla.

“Ah, nggak apa-apa Dion.” Jawab Nayla sambil menundukkan kepalanya. Sepasang sepatunya tetap terlihat sangat kotor.

“Bohong! Pasti tadi kamu habis dikerjain Cindy ya?” ujar Dion bersikeras. Dilihatnya sepatu Nayla yang kotor belepotan tanah basah.

“Tidak salah lagi ini pasti ulah Cindy.”gerutu Dion geram

Muka Dion tegang, tangannya terkepal, matanya memerah dan gerahamnya terkatup kuat. Dia jengkel karena Cindy sudah membuat susah Nayla, gadis pujaannya. 

 “Sudahlah, dia memang suka begitu sama anak baru. Nanti biar aku kasih pelajaran!”

“Dion, jangan!” tapi teriakan Cindy sia-sia karena kaki Dion sudah berlari mencari Cindy. “Ya, ampun!” keluh Nayla. “Bagaimana nanti kalau Cindy semakin benci padaku?” Nayla betul-betul khawatir. Diam-diam Nayla merasa senang karena diantara semua temannya, Dionlah yang paling menunjukkan perhatian padanya.

***

Cindy sedang asyik menikmati semangkuk bakso beserta Deby dan Siska, ketika matanya tidak sengaja melihat Dion berjalan kearahnya. Mata Cindy membuka lebar dan berbinar-binar.   

“Ah…Dion, ternyata kamu memang tak bisa jauh dariku,” Senyum Cindy langsung terkembang ketika Dion, cowok pujaannya semakin mendekatinya. Dia sama sekali tidak memperhatikan kalau di mata Dion, hanya ada api kebencian padanya. 

“Eh, Dion! Aku senang banget kamu nyusul aku kesini. Aku traktir bakso ya?” ujar Cindy dengan riang.

“Gak, aku enggak lapar.” timpal Dion ketus.

 “Cin, Nayla kamu apain tadi? Kamu ngerjain dia ya? Gak ada kapok-kapoknya ya kamu ngerjain anak cewek yang kamu benci?” Dion memberondong Cindy dengan pertanyaan beruntun, membuat Cindy terperangah, kehilangan kata-kata untuk membela diri.

“Aku tadi gak ngapa-ngapain dia kok!” bela Cindy tergagap. Sama sekali tak menyangka Dion akan memojokkannya seperti itu . Dia takut Dion sungguh-sungguh benci padanya.

“Aku cuma….”

“Aah…sudahlah! Aku minta sama kamu, jangan pernah lagi ganggu Nayla!”  

“Kalau tidak, aku gak pernah mau lagi jadi teman kamu!” ancam Dion sungguh-sungguh.

Cindy terhenyak, tubuhnya mendadak lemas. Dia tidak menyangka perhatian Dion sebesar itu pada Nayla. Belum lagi sempat Cindy melanjutkan kata-katanya, Dion sudah meninggalkannya.

Sesaat kemudian, api kebencian Cindy pada Nayla semakin besar.    

“Awas kamu Nayla! Beraninya kamu merebut Dion, tunggu saja pembalasanku!” tekad Cindy dalam hati. Tangannya terkepal. Sinar matanya menyala-nyala penuh amarah, giginya bergemeletuk.

***

“Kemana ya Nayla? Sakitkah? Sudah tiga hari ini aku tidak melihatnya.” Dion mondar-mandir gelisah sambil matanya sesekali melirik ke kelas Nayla.

Dion segera mencari tahu keadaan Nayla lewat Ina, sahabat Nayla. Ternyata dia memang sakit.

Dion semakin yakin salah satu penyebabnya karena Nayla sering diganggu Cindy. Entah mengapa, dia semakin ingin melindungi gadis itu. Perlahan rasa cintanya semakin membesar.

Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh di sekeliling Dion. Ternyata itu suara teman-temannya yang heboh membicarakan kedatangan murid baru.

“Waduh, ada murid baru lagi? Kenapa seheboh ini?” pikir Dion keheranan.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilat berhenti di depan pintu sekolah. Seorang pria separuh baya, tergopoh keluar dan membukakan pintu belakang sebelah kanan. Dari pintu itu, keluar seorang gadis bersepatu putih turun dengan anggun. Rambut hitamnya yang berkilau dibiarkan tergerai sebahu. Kulitnya putih bersih. Sepasang mata indah yang kecoklatan dengan bulu mata lentik terlihat menawan. Senyum manisnya memperlihatkan sederet gigi putih yang berderet rapi. Bibir mungilnya tak henti menebar senyum ramah. Betul-betul gadis yang sungguh cantik dan tidak bosan dipandang mata.

Dion segera menyadari sebab kegaduhan, ketika gadis itu melangkah menuju ke kelas Nayla. Mata Dion membulat dan terpana melihat gadis secantik itu. Sesaat Dion merasa ada desir di dalam dadanya tetapi buru-buru dia menepis perasaan itu.

“Ah, anak orang kaya seperti itu biasanya sombong. Lain dengan Nayla yang sederhana.” Puji Dion. Tiba-tiba dirinya merasa sangat kehilangan gadis itu. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Apa sakitnya parah?    

Belum lagi selesai Dion memikirkan Nayla, ketika akhirnya bel sekolah berbunyi dan semua siswa masuk ke kelas. Saat pelajaran berlangsung, pikiran Dion hanya tertuju pada Nayla, ingin sekali dia menemui gadis itu dan datang ke rumahnya. Dia hanya ingin tahu keadaannya.

****

Siang itu di kantin sangat penuh, hampir semua bangku terisi. Kecuali di samping Dion, masih ada sedikit tempat yang tersisa.  Dion terlihat tidak berselera makan siang. Padahal biasanya nasi goreng kesukaannya selalu lahap dihabiskannya dalam waktu singkat. Bayangan Nayla dengan murid baru yang baru ditemuinya tadi silih berganti di pikirannya.

“Kenapa aku jadi memikirkan si anak baru tadi?” gumam Dion keheranan.

“Ah, payah aku ini, baru sebentar suka sama Nayla, eh sekarang sudah terpikat si anak baru itu.” keluh Dion.

Tiba-tiba saja

“Ini kosong? Boleh aku duduk disini?” sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Dion.

“Si..silahkan, kosong kok!” ujar Dion tergagap ketika dilihatnya yang hendak duduk disampingnya adalah si anak baru tadi.

“Kok gak dihabiskan makannya Dion? Kan sayang…” suara lembutnya si anak baru, menyadarkan Dion bahwa sedari tadi dia tak berkedip melihatnya.

“Eh, kok kamu tahu namaku ya? Kan kita belum kenalan.” Dion mendadak grogi ketika namanya disebut si anak baru itu.

“Hei Dion! Aku Nayla! Masa baru beberapa hari kamu sudah tidak mengenali aku?”

Dion terkesiap! Nayla? Ah, mana mungkin dia bisa berubah wujud seperti ini dalam waktu singkat?

“Ah, kamu bercanda! Nayla sedang sakit. Kamu kenal dia? Apa dia saudara kamu?” ucap Dion sambil tak henti-hentinya dia mengamati gadis itu dari atas sampai bawah.

Tingginya sih sama, posturnya sama, tapi wajah dan penampilannya? Sungguh bagaikan bumi dan langit dengan Nayla, gadis yang pemalu dan sangat bersahaja.

Gadis itu terkekeh geli melihat Dion melongo dan memperhatikannya terus dari atas sampai ke bawah.

“Betul, Dion. Ini aku Nayla!” seru gadis itu sambil tertawa meyakinkan Dion.

“Tapi, kamu…”

“Begini ceritanya Dion, aku gak masuk beberapa hari ini memang karena aku harus menjalani operasi mata.” terang Nayla sambil tersenyum.

“Karena mataku minusnya sudah banyak maka, orang tuaku memutuskan untuk melakukan operasi dengan metode terbaru yang bisa menyembuhkan mata minusku. Jadi aku sekarang tidak membutuhkan kacamata lagi.” Nayla membuka matanya lebar-lebar. Dion memperhatikan mata kecoklatan Nayla yang sungguh indah. Tatapan matanya yang beradu dengan mata Nayla membuat Dion tak kuasa menahan jantungnya yang berdegup kencang.  

“Aku juga kemarin sudah melepas behel gigiku karena sekarang gigiku sudah rapi.” ujar Nayla sambil memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi, membuat senyumnya semakin menawan.  

“Dan mengenai penampilanku,  ini karena tanteku yang mengubahnya.” Nayla berkata sambil menyibakkan rambut indahnya.

“Dia punya salon terkenal, dan dia yang memilihkan potongan rambut ini karena menurut dia, model ini sangat cocok dengan wajahku yang sekarang.” Nayla menjelaskan semua dengan riang. Tak ada lagi kesan gadis pemalu yang selalu menundukkan kepala ketika berbicara dengan orang lain.

Dion terkesima mendengarkan semua penjelasan Nayla hingga tak sanggup berkata-kata. Tetapi kemudian Dion segera menangkap peluang yang tidak boleh disia-siakannya lagi.

“Tapi Nay, apa kamu yang sekarang masih mau berteman denganku?” tanya Dion sungguh-sungguh. Hatinya makin dipenuhi rasa cinta pada gadis itu karena meskipun penampilan Nayla sudah berubah, dia masih rendah hati.

Nayla menganggukkan kepalanya perlahan. Semburat merah terlihat di wajahnya. Dia menunduk sambil tersenyum malu.

“Apa itu berarti kamu mau jadi pacarku?” Dion kembali bertanya hati-hati. Matanya memandang mata Nayla penuh harap. Dia sangat menginginkan anggukan kepala Nayla.

Nayla tersenyum “Bagaimana kalau kita menjadi teman dekat dulu, Dion? Kita kan belum lama kenal.”

Jawaban Nayla itu sudah cukup membuat perasaan Dion bagai melambung tinggi. Ingin rasanya dia berteriak sekeras-kerasnya karena senangnya

“Trims ya Nay…”

Nayla menganggukkan kepalanya sambil tersipu.

Udara panas di kantin tidak terasa lagi karena yang dirasakan Dion dan Nayla saat ini adalah kebahagiaan yang membuncah di dada mereka. Dion lebih bahagia lagi karena begitu dia tahu ulat yang pemalu itu sekarang sudah menjelma menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Dan kupu-kupu itu sekarang sudah hinggap di hatinya.    

 

 

 


Leave a comment

Ulang Tahun Yang Tak Pernah Terwujud

“Slamat u…lang ta…hun…  slamat u…lang ta…hun… Slamat ulang tahun Aa… Slamat ulang ta…hun!”  lagu itu dinyanyikan oleh kedua orang anak berulang-ulang dengan suara perlahan. Wanita yang sedari tadi mengabadikan peristiwa itu, ikut bernyanyi dengan suara tercekat sambil berurai air mata. Kemudian mereka berdua meniup lilin ulang tahunnya hingga padam. Tak ada tepuk tangan yang mengiringi berakhirnya lagu itu selayaknya perayaan ulang tahun, karena sesudah lilin itu padam, mata si anak yang lebih besar berkaca-kaca. Hanya si kecil yang terlihat senang karena dia sudah berhasil membuat lilinnya padam.

 “Ya Alloh, foto ini….!” gumam wanita itu lirih sambil mengusap sebuah foto dalam album kenangan. Air mata tiba-tiba mengalir di pipi tirusnya, tak lama kemudian terdengar isak tangis. Aku ikut merasa sesak dan tak tahan melihatnya. Wanita itu memandang lekat-lekat foto yang terpampang di salah satu album foto kenangan itu. Sebuah foto kue tart dengan dua orang bocah yang sedang meniup lilin ulang tahun. Sepintas mungkin tak ada yang janggal dengan foto diatas, terlihat seperti foto ulang tahun biasa. Tapi bila diperhatikan lilin ulang tahunnya bertuliskan angka 20 sedangkan yang meniup adalah 2 orang anak yang tentu saja belum berusia sebanyak itu.

Diam-diam aku merasakan sakit yang luar biasa mengenang peristiwa dua tahun yang lalu.. Pada saat itu Reza, yang sedang terbaring di rumah sakit, ingin dibuatkan cheese cake untuk ulang tahunnya bulan depan. Tetapi Alloh berkehendak lain, tepat 3 minggu menjelang ulang tahunnya, Reza meninggalkan semua orang yang menyayanginya, memenuhi panggilan Alloh untuk kembali padanya. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.

Kami semua sangat berduka terutama mamanya. Sambil berurai air mata dia membuatkan kue tersebut sesuai pesan Reza, sang putra tercinta. Kue itu dibuatnya dengan segenap rasa kasih sayang, kerinduan, cinta dan juga kepedihan.

 Andaikan Reza masih ada tentu hari itu dia akan mendapat kecupan dan peluk sayang dari mereka semua. Adiknya, Rayhan dan Rafa yang meniupkan lilinnya waktu itu, bersama rasa kangen terhadap Aa mereka tersayang yang tidak akan pernah bisa mereka peluk lagi, tidak bisa diajak bercanda lagi dan tidak bisa memberi nasihat lagi.

Sedangkan aku? Hanya bisa diam dengan perasaan yang hancur. Begitu juga semua temanku. Reza sangat menyayangi kami. Dengan susah payah dan kerja kerasnya, dia bisa membawa kami semua ke rumah ini. Dia memperlakukan kami dengan sangat istimewa. Reza juga selalu membawa teman lain yang baru sehingga kami semua tidak pernah kesepian. Kini tak kan pernah kulihat lagi senyumnya tatkala dia mengelusku dan sepertinya kini kilauku akan redup. Dia juga tak akan pernah mengukir namanya lagi.      

“Pergilah sayang, kami ikhlas melepasmu. Istirahatlah yang tenang dalam tidur panjangmu. Kami semua sangat bangga pernah menjadi bagian dari dirimu. Kami bangga mempunyai teman yang sholeh sepertimu. Semoga engkau mendapatkan kebahagiaan abadi dibanding kebahagiaan yang ada di dunia ini.” bisikku lirih sambil memandang foto yang terpajang di dinding ketika ia sedang tersenyum bahagia memelukku.    


10 Comments

THE HUNTED INVENTION

Sebuah mobil sedan melintas di jalanan yang cukup ramai siang itu. Mobil yang berwarna hitam metalik itu zigzag menyalip beberapa mobil lainnya. Seperti mobil mewah biasa, tidak ada yang istimewa. Di dalamnya James terlihat duduk santai di sebuah sofa putih empuk sambil mendengarkan musik mozart yang mengalun. Disampingnya sepiring nachos saus keju dan segelas lemon lime menemaninya. Tidak ada seorangpun yang menemaninya karena dia telah menekan tombol auto drive. Mobil itu dilengkapi dengan tombol mode STEALTH dan mode PLANE yang membuatnya menjadi tak terlihat ataupun berubah menjadi sebuah pesawat. Tentu saja mobil tersebut anti peluru.

Dari kejauhan, sebuah mobil minivan hitam, menguntit mobil tersebut tanpa disadari James.

“Open the gate!” perintah James ketika mobil itu sudah berhenti di sebuah gerbang yang didalamnya berdiri sebuah bangunan sangat megah mirip sebuah kerajaan.

Seberkas sinar dari sebuah scanner terlihat memindai mobil itu termasuk penumpangnya. Gerbang terbuka lebar dan mobil itu kembali meluncur ke sebuah garasi. Disana sudah ada puluhan mobil yang terlihat serupa tetapi semuanya hanyalah mobil biasa.

Kembali sebuah sinar memindai mobil yang dikendarai James dan tiba-tiba lantai didepannya sudah terbuka lebar. Mobil James melintasi jalan menurun melewati lorong yang membawanya pada sebuah rumah megah yang dikelilingi taman indah yang sangat luas. Ruangan luas bernuansa putih itu dilengkapi berbagai peralatan canggih. Beberapa mesin terlihat berderet rapi.

Tiba-tiba saja James merasa sangat lapar siang ini.

“Spaghetti!” ucapnya pada sebuah robot. Benda putih mirip astronot itu berjalan  mengambil sekotak spaghetti, broccoli, susu dan sekotak keju. Dimasukkannya semua bahan makanan tersebut pada kotak yang terbuka di dalam perutnya. Dia menekan tombol PROCEED. Tak lama sepiring spaghetti siap santap ditaruhnya di meja makan.

Sementara itu James menyentuhkan jarinya pada layar komputer hologramnya yang terbentang di hadapannya. Sekejap dinding-dinding berwarna putih itu menghilang! Kini James tengah berada di sebuah pulau indah dan terpencil. Udara sejuk menerpanya . Dia menikmati spaghetti yang lezat kemudian beristirahat sambil berbaring santai di atas sebuah hammock yang dipasang pada dua buah pohon rindang.

Tiba-tiba terdengar suara raungan alarm! Keras dan bertubi-tubi!

Seorang laki-laki tua berambut putih terlihat tergopoh-gopoh menghampirinya“Celaka, James! Musuh masuk ke rumah induk!”

James tersentak kaget “Bagaimana bisa musuh memasuki rumahnya yang dilengkapi pengamanan berlapis? Apakah ada penghianat diantara para bodyguard ayahnya di rumah induk?”

“Ah, sudahlah. Kau tak usah khawatir paman Max. Itu pasti geng Antonio yang sudah berkali-kali gagal ingin merebut penemuan terbaru kita.” ujar James tenang.

Dipijitnya satu tombol hitam besar dari sebuah kotak metalik seukuran kotak sepatu. Ratusan sinar mencelat kemana-mana dan rumah beserta seluruh isinya hilang dari pandangan! Yang tersisa hanyalah sebuah taman yang kosong melompong.

Saat itu James sudah berada di belahan bumi lain. Dia sedang bersantai di Hawai. Rumah itu kini berhadapan dengan laut dimana gadis-gadis seksi berbikini sedang berjemur di pantai. James mengerdipkan matanya pada paman Max sambil tersenyum nakal.

Simpan

Simpan

Simpan


11 Comments

Paranoia


Cathy melangkahkan kakinya dengan cepat di jalanan yang sudah mulai sepi itu. Hanya satu dua gelandangan yang terlihat meringkuk di emperan toko yang sudah tutup. Setengah berlari, tak dihiraukannya rasa sakit pada kakinya yang tersiksa karena mengenakan high heels.

Jantungnya berdebar tak menentu. Beberapa kali kepalanya mengengok ke belakang.
Napas Cathy memburu, keringatnya mengucur deras, dadanya naik turun. Sejenak dia mendengar hentakan suara sepatu yang berlangkah mendekat. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya! Ditengoknya ke belakang sekali lagi. Tak ada siapapun!

Akhirnya Cathy merasa tak tahan lagi, dia harus segera sampai di rumahnya! Diangkatnya kedua kakinya tinggi-tinggi dan diapun berlari dengan kencang menuju rumahnya.

Dengan gugup dan tangan bergetar dia mengeluarkan kunci. Tergesa diputarnya lubang kunci. Macet!

“Oh Tuhan, tidak! Jangan sekarang!” batinnya dalam hati.

Dicobanya sekali lagi, lagi-lagi macet! Cathy mendengar suara gemerisik keras di balik pepohonan besar. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

“Siapa disitu?!” teriaknya panik. Mata Cathy terbelalak, kali ini keringat dingin membanjiri tubuhnya. Oh.. jangan-jangan bajingan itu membuntutinya sampai di rumah!

Diputarnya kunci sekali lagi, berhasil! Buru-buru dibukanya pintu dan ditutupnya dengan kencang. Diputarnya kunci dua kali untuk memastikan dirinya aman.

Perlahan ditariknya napas lega. Segera dinyalakannya lampu ruangan. Mata Cathy menyapu seluruh ruangan. Mendadak dia melihat sesuatu yang membuatnya jantungnya kembali berdetak kencang.
“Jendela itu! Kenapa jendelanya terbuka lebar?!” mata Cathy membelalak. Napasnya kembali memburu.
“Oh, jangan-jangan…” tiba-tiba saja Cathy merasa seluruh tubuhnya kaku


5 Comments

Matahari Merah

matahari-merah

Malam seakan tak berujung ketika akhirnya kumelompat terbangun oleh suara kokok ayam yang parau seakan tercekik. Pagi hari? Rasanya janggal ketika kulempar pandangan keluar jendela. Silau kumelihat langit merah membara, cahyamu membakar bumi. Tak kulihat barang segelintirpun mahluk disana. Hanya aku dan ayam yang berkokok kemudian mati. Aliran darahku berhenti di satu titik terhimpit bongkahan rasa takut yang mendesak bergejolak sampai ke dalam sumsum.

Apa yang terjadi? Kemanakah semua orang? Kulihat onggokan hitam dimana-mana. Apakah mereka semua terbakar hancur? Kulihat diriku tlah kuyup bermandi peluh. Dalam tubuh yang menggigil, payah ku menyeretnya keluar. Aaaw..! Tak kuasa kubuka mataku saat pijarmu semakin jahat menghunjam mataku.

Duh, kemana sinar hangat yang biasa menyelusup dalam hati? Memainkan rasa, mencumbu asa bahagiaku. Kurindu belaian angin yang menghembus bulu pipiku. Menghantar angan mencipta rindu menggebuku. Tapi hanya panas membara yang membakar tubuhku.

Kuterpaku melihat pepohonan meranggas mati. Ku tak siap bila sekarang harus kuhadapi sekarat sendirian.

Apakah ini kiamat? Atau mungkin aku sudah mati? Oo jangan Tuhan.. Jiwaku belumlah siap. Jangan biarkan pijar panas itu menyentuh memanggang setiap jengkal ragaku. Jangan kau biarkan aku tenggelam bersama nanah dosa dan borok maksiatku. Rasa sakit yang menjalar bagai cemeti melecut hingga kulitku  tercerabut dari dagingku. Ampuni aku..! Beri aku masa sebentar lagi, hentikan waktu yang terus bergulir, putar balikkan saat yang kupunya. Akan kupatutkan ibadahku, kupenuhkan amalanku hingga siksa ini tak harus kualami. Namun peluh berlumpur panas tlah menenggelamkanku sampai leher. 

Aku berteriak hingga nafasku tinggal sebaris, aku kesakitan sampai lepas semua sendiku, rasa takut sudah membakar ubun-ubunku. Aku mencengkeram, menjerit, berharap malaikat kan mengangkatku dari  siksa ini. Percuma, tiada yang menolong. Semua musnah, semua sirna dari muka bumi meninggalkanku menjemput ajal yang menyusul.

Aku terbangun… tertegun . Mimpikah aku? Kulihat keluar jendela, kilau matahari menyinari semesta. Hangatnya menjalar membangkitkan gairah hidupku. Indah pendarnya memanjakan mata merayu rinduku. Segenap syukur terlisan atas karunia nikmat yang tak sengaja tlah kuingkari. Terimakasih Tuhan.  Tlah kau beri aku kesempatan lagi tuk mencecap segarnya udara, tuk mereguk limpahan kehangatan sinar matahari. Kan kurajut waktu yang tersisa dengan ibadah terindahku, agar seulas senyum terpatri bila waktuku tiba.